MARETHA SYAWALLIN UMARACH (2023) STRATEGI KEMENANGAN AZERBAIJAN ATAS KONFLIK PEREBUTAN WILAYAH NAGORNO-KARABAKH DENGAN ARMENIA TAHUN 2020. S2 thesis, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
|
Text (Halaman Judul)
Halaman Judul.pdf Download (347kB) |
|
|
Text (Lembar Pengesahan)
Lembar Pengesahan.pdf Restricted to Registered users only Download (342kB) |
|
|
Text (Abstrak)
Abstrak.pdf Restricted to Registered users only Download (76kB) |
|
|
Text (Bab I)
Bab I.pdf Download (355kB) |
|
|
Text (Bab II)
Bab II.pdf Restricted to Registered users only Download (1MB) |
|
|
Text (Bab III)
Bab III.pdf Restricted to Registered users only Download (1MB) |
|
|
Text (Bab IV)
Bab IV.pdf Restricted to Registered users only Download (57kB) |
|
|
Text (Daftar Pustaka)
Daftar Pustaka.pdf Restricted to Registered users only Download (117kB) |
|
|
Text (Naskah Publikasi)
Naskah Publikasi.pdf Restricted to Registered users only Download (162kB) |
|
|
Text (Full Text)
Full Text.pdf Restricted to Repository staff only Download (5MB) |
Abstract
Puluhan tahun lalu, Armenia dan Azerbaijan, dua negara di kawasan Kaukasus Selatan, berselisih paham atas sengketa wilayah bernama Nagorno-Karabakh. Pada tahun 1921, Pemerintah Uni Soviet menganeksasi Nagorno-Karabakh yang didominasi etnis Armenia ke Azerbaijan. Namun, setelah Uni Soviet runtuh pada tahun 1991, separatis Armenia merebut Nagorno-Karabakh dalam sebuah insiden yang didukung oleh Pemerintah Armenia. Azerbaijan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap perlakuan ini, mengakibatkan pertempuran antara Azerbaijan dan Armenia, yang menewaskan sekitar 30.000 orang. Sebelum tahun 2020, konflik Nagorno-Karabakh sempat membeku akibat upaya perdamaian yang gencar meski berbagai pihak telah turun tangan untuk mencari solusi terbaik. Hingga 10 November 2020, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev, Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan, dan Presiden Rusia Vladimir Putin sepakat menandatangani perjanjian untuk menghentikan pertempuran yang terjadi di wilayah Nagorno-Karabakh. Gencatan senjata ditandatangani setelah pasukan militer Azerbaijan berhasil menguasai sebagian besar Nagorno-Karabakh. Penelitian ini menggunakan paradigma neorealisme untuk menganalisis strategi Azerbaijan memenangkan konflik wilayah Nagorno-Karabakh dengan Armenia pada tahun 2020. Hasilnya menunjukkan bahwa Azerbaijan mengembangkan hubungan kerja sama yang menguntungkan dengan Turki, Israel dan Rusia. Negara-negara ini kemudian membantu. Salah satunya adalah bantuan peralatan militer yang memungkinkan Azerbaijan memenangkan perang melawan Armenia.
| Dosen Pembimbing: | Ali Muhammad, S.IP., M.A., Ph.D. | NIDN0031077101 |
|---|---|
| Item Type: | Thesis (S2) |
| Uncontrolled Keywords: | Nagorno-Karabakh,44-day war, territorial dispute,military cooperation, neorealism paradigm |
| Divisions: | Pasca Sarjana > S2 Hubungan Internasional |
| Depositing User: | Aidilla Qurotianti |
| Date Deposited: | 01 Nov 2023 07:38 |
| Last Modified: | 01 Nov 2023 07:38 |
| URI: | https://etd.umy.ac.id/id/eprint/40660 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
